Ketika Kita Menjadi Seperti Kupu-Kupu

(6 ulasan pelanggan)

Rp150.000

Andy menemani Kakek berjalan-jalan di taman. Tiba-tiba mereka membahas tentang kematian. Percakapan mereka sangat terbuka dan menyentuh. Pertanyaan pribadi seperti: “Apakah kamu takut mati?” dan

“Apa yang ingin kamu lakukan sebelum mati?”, hingga pertanyaan filosofi “Kenapa kita mati?” dan “Apa yang akan terjadi setelah kita mati?”.

Buku cerita bergambar yang mengesankan tentang perasaan takut, pikiran, ide, dan pertanyaan seputar kematian.
Untuk umur 5 tahun ke atas.

Dilengkapi epilog dari ahli kejiwaan, Rebecca Dabekaussen yang memberikan petunjuk dan saran untuk membahas masalah sulit yang tidak terhindarkan pada anak-anak dan remaja.

Deskripsi

Buku cerita bergambar yang mengesankan tentang perasaan takut, pikiran, ide, dan pertanyaan seputar kematian. Dilengkapi epilog dari ahli kejiwaan, Rebecca Dabekaussen yang memberikan petunjuk dan saran untuk membahas masalah sulit yang tidak terhindarkan pada anak-anak dan remaja.
Penulis: Pimm van Hest
Ilustrator: Lisa Brandenburg
Untuk usia 5+
32 halaman
Ukuran: 297 x 218 x 10 mm
Hardcover

Informasi Tambahan

Berat 0.5 kg

  1. Lestari Anggraeni

    Zaid suka banget dengan tokoh anak yang bernama Andy dalam Buku “Ketika Kita Menjadi Seperti Kupu-kupu” terbitan Clavis Indonesia 😍
    Buku cerita bergambar yang amazing untuk dinikmati, Ilustrasi-nya soft banget, alur ceritanya elegan dan juga penyusunan kalimat gaya bahasa yang digunakan sangat sopan.
    Buku tentang perasaan takut, pikiran, ide dan pertanyaan seputar kematian. Buku ini di rekomendasikan untuk usia 5 tahun ke atas, meski Zaid baru berusia 3 tahun (saat kami memiliki buku ini) tapi ketika saya membacakan buku ini, Zaid juga jadi kangen dengan Kakek. Zaid belum pernah bertemu Kakek karena Beliau sudah meninggal sebelum Zaid dilahirkan.

    Buku yang sangat berkesan 🥰
    Terbaik 👏👏

  2. Sri purnamasari

    Ga akan menyangka dari JUDUL BUKU ini bahwa ini adalah buku cerita tentang Kematian. Keren banget ilustrasi dan pemilihan cerita nya unik.

    Kalau biasanya buku cerita anak itu pasti isinya permainan, hal yang menyenangkan, ceria, hewan, disini kita akan tercengang karena membahasa soal kematian.

    Di indonesia sendiri jarang banget bahas ini untuk anak-anak dibawah 7th. Masih dianggap menyeramkan membahas kematian. Padahal ini sangat penting diketahui oleh anak-anak karena bisa saja keluarga terdekat mereka akan mengalami hal ini. Bahkan mereka pun walau anak-anak juga bisa saja mengalami kematian. Entah itu manusia atau hewan, semua makhluk hidup akan mengalaminya. Siap atau tidak.

    Disini dibahas menjadi obrolan ringan … bener-bener seperi Daffa yang sedang ngobrol dengan kakeknya. Dapat dipahami bagaimana perbincangan mereka membahas kematian. Si kakek yang sudah tua bisa saja sebentar lagi meninggal, menjelaskan ke cucunya bahwa jangan khawatir tentang kematian tidak perlu takut, kita semua akan menghadapinya. Lalui hidupmu dengan bahagia dan usaha terbaik mu.

  3. Rezki Wulandari Purba

    Halo Clavis

    Terima kasih atas kesempatan ini.
    Buku kedua yang akan saya ulas adalah buku ini, Ketika Kita menjadi Seperti Kupu-kupu, karya Pimm Van Hest & Lisa Brandenburg.

    Buku ini bercerita dengan lembut tentang apa itu kematian, proses meninggalnya setiap manusia, dan bahwa kematian itu adalah sesuatu yang istimewa. Hal yang paling saya kagumi dari buku ini adalah bahwa bukan tentang kematian yang harus dipikirkan, tapi adalah TUJUAN KEHIDUPAN itu sendiri. Merasa takut boleh, tapi jangan terpaku rasa itu. Mari melakukan yang terbaik karena kesempatan masih ada, jadi ketika kesempatan tidak ada lagi, tidak akan ada rasa penyesalan.

    Andy adalah seoranga anak yang sangat cerdas dan memiliki wawasan yang luas. Andy sangat tahu dengan baik bagaimana ia harus menenangkan Kakek dengan memberikan pertanyaaan dan jawaban seputar kematian. Kakek sendiri sangat bangga terhadap Andy karena bisa menjadi teman diskusi, itu kesimpulan yang saya dapat dari cerita ini.

    Melalui buku ini, orang tua dapat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang proses kehidupan dan kematian. Sangat membantu. Jujur, secara pribadi, buku ini sangat membantu saya dan suami, walalupun Rafan, anak saya, masih berumur 3 tahun. Namun, saya dapat menjelaskan tentang berlibur naik pesawat (Rafan sangat suka hal-hal yang berkaitan dengan transportasi, terutama pesawat), adanya hujan coklat (anak-anak pasti sangat suka coklat, begitu juga dengan Rafan), dan tahu tentang kupu-kupu (Rafan lagi mengagumi banget tentang hewan yang satu ini). Lewat percakapan seorang anak kecil yang bernama Andy bersama Kakeknya, orang tua dapat mempunyai pengetahuan bagaimana menjelaskan kematian kepada anak-anaknya. Kelak, kematian bukan hal yang perlu ditakutkan tetapi dibanggakan karena kita sudah melakukan yang terbaik.

    Terakhir, buku ini adalah karya yang luar biasa. Terima kasih Clavis dan terima kasih kepada penulis dan ilustrator.
    Saya pamit, byeeee

  4. dian selia rani

    Ada dua hal yang masih dianggap tabu dilingkungan sekitar saya. bahkan di circle utama kehidupan saya, keluarga saya, yang pertama adalah kelahiran dan yang kedua adalah kematian. Membahas tentang sebuah kelahiran, seringnya dianggap sebagai obrolan yang tidak pantas, jorok dan vulgar. Sama halnya dengan berbicara tentang kematian, selalu dihubungkan dengan kesedihan, atau bahkan dihubungkan dengan hal-hal mistis.

    ketika saya membaca buku ini, saya menangkap bahwa kakek andy adalah pribadi yang terbuka, dan berbicara apa adanya. Andai orang2 disekitar saya juga demikian, mungkin saya bisa lebih mudah menerima ketika momen itu datang. Saya lelah dengan perkataan “sudah tidak perlu dibahas, nanti dia juga akan mengerti dengan sendirinya”. Pengalihan pembicaraan, atau bahkan memarahi kenapa terus bertanya tentang hal-hal yg aneh. Aneh? dari mananya? bilang saja tidak tahu, atau bingung harus menjawab apa, karena tak banyak pengetahuan yang dimiliki, atau bahkan bingung harus menjawab apa karena tidak siap. Ya, inilah yang saya tangkap, orang tua yang kurang pengetahuan dan orang tua yang tidak siap. Maka dari itu, pembicaraan tentang kematian atau kelahiran ini selalu mereka hindari

    dengan adanya buku ini, bisa membantu saya menjelaskan kepada anak bahwa setiap yang bernyawa itu pasti mati, ada kelahiran pasti ada pula kematian. terima kasih clavis, karena sudah mengangkat tema ini dengan sangat ringan, sehingga mudah dimengerti oleh anak-anak.

    dengan

  5. Dian Puspitasari

    Buku yang membuat saya kenalan dengan Clavis nih.
    Isinya dalem banget, tentang kematian yang dibahas oleh seorang kakek dan cucunya.
    Bahasanya ringan dan mudah dimengerti anak yang mulai penasaran dengan kematian.
    Ternyata penulisnya juga dari psikolog. Keren sekali.
    Karena pembahasan kematian tidak melulu menakutkan, menyedihkan. Disini justru dibahas layaknya orang berbincang biasa.

  6. Qotrunnada Zakiyah

    Percakapan seorang cucu dengan sang kakek. Andy ingin menyimpan ulat di rumahnya di dalam stoples. Kakek pun berkata ulat itu akan cepat mati di dalam stoples.
    Lalu, Andy bertanya: “Apa kakek juga akan cepat meninggal?”
    Percakapan pun berlanjut..
    Percakapan yang berat namun mengalir dengan begitu indah
    Dengan berbagai perumpamaan dan rasa penasaran

    Andy bertanya, “Apa yang akan terjadi setelah kita meninggal nanti?”
    “Kakek akan berada di suatu tempat dimana turun hujan coklat”, jawab kakek.

    Di bagian epilog, Andy menulis surat untuk kakek yang sudah meninggal.
    Andy mengibaratkan mati itu seperti berubah menjadi kupu-kupu
    Ulat itu sebenarnya sudah mati, namun tidak sepenuhnya benar karena telah berubah menjadi kupu-kupu. Menjadi sesuatu yang indah

    Buku yang mengharu biru dengan ilustrasi yang soft dan unik💙 What a great book🤎

Tambahkan ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *