Legenda Sangkuriang

(4 ulasan pelanggan)

Rp130.000

Sangkuriang menjelajah hutan untuk mencari ibunya, Dayang Sumbi. Mereka terpisah sejak ia baru lahir. Bersama dengan Tumang, anjing peliharaannya yang pintar dan setia, mereka bertualang di hutan rimba yang luas dan menyaksikan bagaimana alam yang indah menjadi rusak dan sangat memprihatinkan. Apa yang terjadi? Ayo, cari tahu cerita lengkapnya!

Buku cerita mengharukan tentang pertemuan, perpisahan, kasih sayang, dan menjaga pelestarian alam. Untuk pembaca pemberani usia 6 tahun ke atas.

Deskripsi

Publishing : BIG
Hardcover  |34 pages | 250 x 260 mm | ISBN: 978-623-9635-98-5
Penulis : Winda Susilo
llustrator: Suyanti Prasetio

Informasi Tambahan

Berat 0.5 kg

  1. Sri Purnamasari

    Cerita Legenda Sangkuriang satu ini merupakan tutur ulang dari cerita nusantara Sangkuriang yang terkenal.

    Uniknya penulis mengangkat tema lingkungan dan konservasi binatang Gajah dan Harimau. Menarik sekali…

    Daffa (6th) membaca buku ini untuk pertama kali, menangis ketika melihat ilustrasi Gajah yang mati dan Harimau yang tertembak anak panah. Ilustrasi dibuat sangat apik untuk menggugah perasaan seorang anak terkait kesedihan hewan-hewan di hutan.

    Selain menceritakan mitos terbentuknya Gunung Tangkuban Perahu dan sosok Sangkuriang, penulis ingin menyampaikan pesan kepada anak-anak untuk menjaga hutan, tidak menyakiti hewan, dan menjaga hewan-hewan yang saat ini berstatus hampir punah.

    Buku yang bagus untuk dimiliki anak-anak karena dapat memantik diskusi yang luas tentang isu lingkungan dan konservasi hewan.

  2. Christantiowati

    Sekian tahun lalu, Jaya Suprana menegaskan bahwa versi asli Sangkuriang tak layak bagi anak karena merupakan cerita yang jorok sekali: ada hubungan tak senonoh antara manusia dan anjing, serta incest, hubungan sedarah antara ibu dengan anak kandung. Harus ada upaya tutur ulang ramah anak jika legenda tentang Tangkuban Perahu ini ingin dilestarikan.

    Inilah yang dilakukan Winda Susilo dalam Legenda Sangkuriang: bermula dari negeri peri dengan penghuni muda dan hidup abadi, termasuk Dayang Sumbi yang melanggar aturan, menikah dengan manusia dan melahirkan Sangkuriang, dan dibuang hidup di Bumi. Menyendiri di tengah rimba, Dayang Sumbi bertemu dengan putranya yang telah dewasa bersama Tumang, anjingnya, yang menjelajah hutan untuk melindungi para hewan dari pemburu liar. Yang dipijak pun bukan terbatas Bumi Pasundan, karena banyak dihuni gajah. Tiada permintaan membangun suatu hal besar dalam semalam, melainkan ajakan melestarikan alam dengan akhir tak terduga.

    Legenda Sangkuriang menjadi kisah indah ramah anak diperkaya ilustrasi cat air karya Suyanti Prasetio yang begitu detail menyuguhkan alam tropis dan rumah panggung kayu dengan pendar lampu khas Nusantara.

  3. Christantiowati

    Jaya Suprana dalam sebuah kesempatan bertahun lalu pernah menegaskan bahwa versi asli Sangkuriang tak layak bagi anak karena jorok sekali: mengandung unsur tak senonoh tentang hubungan manusia-anjing yang membuahkan anak lelaki, dan incest ibu-anak kandung. Harus ada upaya tutur ulang jika legenda Tangkuban Perahu ini ingin dilestarikan.

    Inilah yang dilakukan Winda Susilo dalam Legenda Sangkuriang: Dayang Sumbi sang putri dari negeri peri yang muda dan hidup abadi, melanggar aturan dengan menikahi manusia dan melahirkan Sangkuriang. Dibuang hidup di Bumi, Dayang Sumbi memutuskan hidup di tengah rimba, terpisah dari Sangkuriang yang diasuh ayahnya.

    Sangkuriang dan Tumang, anjingnya, yang menjelajah rimba untuk menyelamatkan para hewan dari pemburu liar akhirnya bertemu dengan Dayang Sumbi.

    Tiada permintaan membangun sesuatu dalam semalam, kisah bergulir seputar rimba yang tak terbatas di Bumi Pasundan, karena banyak dihuni gajah. Namun, ada tugas yang jauh lebih penting bagi Sangkuriang terkait pelestarian alam.

    Ilustrasi cat air dari Suyanti Prasetio yang detail menyuguhkan alam tropis Nusantara dan pondok kayu dengan pendar lampu menyempurnakan kisah yang kini ramah anak ini 🙂

  4. Fransisca Kumalasari

    Melalui buku ini kita bisa mengajak anak mengenal berbagai macam emosi yang akan muncul saat membaca ceritanya. Ada saat bahagia, haru, sedih, dan juga marah. Tidak semua cerita memiliki akhir yang bahagia, namun kita tetap bisa menarik pembelajaran berharga dari rangkaian peristiwa yang ada. Demikian pula dengan buku yang satu ini, dari pilihan gambar di sampul depan tampak betapa geram Sangkuriang menendang perahu sambil menangis seperti tak kuasa menahan perasaan yang membuncah di dada.
    Kisah tentang perjuangan kasih seorang anak terhadap ibu dan alam sekitarnya. Dayang Sumbi adalh putri kerajaan peri, lalu mendapat hukuman diasingkan ke hutan rimba di Bumi karena menikah dengan manusia. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang yang diasuh oleh ayahnya. Sangkuriang tumbuh dewasa tanpa mengenal ibunya.
    Sangkuriang mulai petualangan mencari ibunya dalam hutan bersama anjing peliharaannya. Selama di dalam hutan, Sangkuriang banyak menolong hewan karena ulah para pemburu. Namun tidak semua bisa ia selamatkan. Ada hewan yang terluka, bahkan mati. Sangkuriang marah melihat orang-orang yang telah melukai kesayangannya. Ia menendang perahu yang kemudian berubah menjadi gunung sehingga orang-orang jahat tadi terperangkap dalam hutan. Bagaimana dengan Dayang Sumbi? Temukan kisah lengkapnya dalam buku.
    Ilustrasi hutan dan tanaman yang memanjakan mata turut mengingatkan akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Detil ekspresi tokoh yang sangat halus membuat kita mudah menyatu dan makin memahami apa yang dirasakan oleh tokoh dalam cerita.

Tambahkan ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.