Misi Ke Dasar Laut

(2 ulasan pelanggan)

Rp150.000

Pada awal tahun 1930-an di abad kedua puluh. Kedua peneliti, William Beebe dan Otis Barton masuk ke dalam Bathysphere, bola baja bear yang mereka ciptakan dan gunakan untuk menjelajah ke dasar laut. Bagaimana mereka bisa membuatnya? Dan apa yang mereka temukan di dasar laut?

Bagian pertama dari seri keajaiban ilmiah. Bermimpi, berani, berpikir, dan melakukan. Untuk peneliti cilik mulai usia 6 tahun.

Deskripsi

ISBN : 978-623-7510-87-1
Penulis : Jan Leyssens
Ilustrator : Joachim Sneyers
Jenis Buku : Hardcover
Ukuran : 210 x 290 mm

Informasi Tambahan

Berat 0,5 kg

  1. Christantiowati

    Pakar dalam suatu bidang itu satu hal. Mampu menyampaikan hal ilmiah yang kerap dianggap rumit menjadi sederhana sehingga awam pun paham itu satu hal lain yang istimewa. Salut pada Jan Leyssens yang memutuskan untuk menulis ulang penemuan-penemuan besar untuk anak-anak. Bukan sekadar dibaca, tetapi mampu menggugah minat anak.

    Saat kanak-kanak, saya membaca novel, fiksi ilmiah Jules Verne tentang penjelajahan bawah laut, juga menonton seri Voyage to the Bottom of the Sea yang ditayangkan TVRI. Semuanya melambungkan fantasi, betapa asyiknya jika bisa ikut dalam petualangan itu.

    Pada 2021, saya hadir di Temu Sapa online bersama Jan Leyssens tentang prosesnya menyusun buku Misi ke Dasar Laut. Ya, ya, semua info ekspedisi ilmiah ini mudah didapati lengkap di jurnal ilmiah tercetak maupun online. Bagaimana menyajikan itu untuk anak-anak? Setelah rampung merangkum, bagaimana menghadirkan ilustrasi yang mendukung? Ekspedisi ini terjadi pada 1930-an ketika teknologi kamera belum belum mencapai bawah laut. Mesti cari ilustrator, nih.

    Proses Jan Leyssens menemukan mitra ilustrator, Joachim Sneyers seperti proses yang dijalani Charles William Beebe, peneliti, petualang dan pencinta alam bawah laut dari Amerika. Pada 1920-an, William Beebe sudah lebih dari 300 kali menyelam dengan setelan selam berhelem bola baja-kaca di kedalaman terbatas. Ia perlu semacam wahana selam yang bisa menyelam dalam. ratusan meter di bawah laut. William Beebe memasang iklan yang disambut Otis Barton, insinyur yang nerjanji merancang wahana selam secara cuma-cuma dengan syarat menjadi mitra peneliti yang turut menyelam.

    Bola selam baja 150 cm kubik itu dinamakan Bathysphere. William dan Otis mencoba dulu di kedalaman dangkal, aman, lanjut ke kedalaman 500 hingga 900 m. Bathysphere diturunkan dari kapal, dan komunikasi terhubung lewat kabel khusus. Keduanya bisa melihat berbagai makhluk aneh yang belum pernah dilihat manusia. Bagaimana mengabadikan ketika teknologi kamera belum bisa menembus kegelapan di bawah sana? Mereka mendiktekan yang dilihat pada Else Bostelmann, juru gambar yang siaga di kapal untuk membuat sketsa yang dituturkan.
    Sungguh buku yan menggugah tentang petualangan ilmiah dan kerja sama peneliti termasuk keterlibatan wanita juru gambar.
    Dahulu saya berangan-angan bisa menyelam saat menonton dokumenter penelitian bawah laut, dan kesampaian menjadi certified scuba diver dalam tingkat penyelam rekreasi, dan sempat mengikuti ekspedisi ilmiah sebatas turut reef check dan semacamnya sebagai pribadi maupun wartawan peliput.

    Dari membaca buku-buku macam ini semoga lahir para calon peneliti. Ngomong-ngomong, menarik juga ya jika Clavis Indonesia bisa menerbitkan seri serupa tentang peneliti Indonesia maupun penelitian dan penemuan besar yang dilakukan di Indonesia. Aamiin 🙂

  2. Retno

    Buku non fiksi yang diterbitkan clavis ini menjadi salah satu upaya mengenalkan sisi lain kehidupan kita, yaitu kehidupan dalam laut, lebih jauh lagi buku ini dapat menjadi sumber inspirasi untuk anak, agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan memupuk tekad yang sabar merintis sebuah cita-cita, tidak ada yang tak mungkin. Hal besar dan teknologi kapal selam canggih ini, berawal dari rasa keingintahuan dari para peneliti terdahuli. Mengesankan.

Tambahkan ulasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.